HOME

Salam Sejahtera.

Institut Teologi Gereja Toraja meluncurkan blog pada wordpress.com ini sebagai wadah informasi dan tempat bertukar pikiran.

Semoga bermanfaat, Tuhan memberkati.

34 comments on “HOME

  1. Saya kurang sependapat dengan hasil studi: PENELUSURAN SIMBOL-SIMBOL ADAT UNTUK WILAYAH ADAT KESU’,
    Disitu dikatakan:
    “Harta utama bagi orang Toraja ialah sawah, dalam hal ini padi”.
    Dari beberapa literatur Toraja (Orang Toraja dan Belanda)yang saya ketahui TEDONG (KERBAU) ADALAH HARTA TERTINGGI ORANG TORAJA, BUKAN PADI.
    Makanya Tedong bisa dijadikan tekken , yaitu semacam modal untuk hidup kawin. Tedong juga merupakan identitas seseorang, khususnya ketika mati: pira tedong ditunuanni ? …. tedong digunakan juga sebagfai alat tukar, misalnya: Seekor kerbau sangpala’ bisa ditukar dengan 1500 ikat padi, sebidang tanah atau sawah bisa dinilai dengan beberapa ekor kerbau.
    Karena tedong adalah harta tertinggi makanya harta lain dapat dibeli atau dinilai dengan tedong.
    Seperti manusia moderen sekarang, uang adalah harta tertinggi makanya harta yang lain dinilai dengan uang.
    Mohon kajian lebih mendalam sebelum dipulikasikan
    Terus terang kebudayaan Toraja sekarang simpang siur, masing2 orang menulis tanpa melalui penelitian yang mendalam. Kebanyakan menulis berdasarkan tulisan yang sudah ada. Yang bahayanya itu kebanyakan tulisan ilmiah. Akhirnya pengetahuan orang luar Toraja tentang budaya Toraja berbeda-beda. Jika sudah tersebar di luar maka susah untuk dikoreksi kembali. Siapa yang salah? tentunya kita orang Toraja yang tidak menghargai budaya sendiri.

  2. Jika ingin menulis tetang budaya Toraja di daerah kesu’ saya sarankan membaca literatur L.T. Tangdilintin “Toraja dan Kebudayaannya” kalau saya tidak salah, ditulis tahun 60-an. Tulisannya kebanyakan diangkat dari wilayah Kesu’. Dia pernah menjadi kepala parandangan ada’ di Toraja

  3. Banyak orang mempertanyakan apa sebenarnya tujuan Institut Teologia Gereja Toraja. Banyak teman saya yang ikut ITGT merasakan sebagai tempat pendidikan layaknya kuliah STT/STAKN yang sangat membosankan. Materi kuliahnya kebanyakan teori.
    Sebaiknya materinya lebih menjurus ke peningkatan moralitas pendeta serta kreatifitas sosial pendeta serta komitment pendeta.
    Terus terang pendeta Getor sekarang tidak ada bedanya dengan moral kami sebgai warga jemaat. Bedanya kami bukan sarjana teologi sedang pendeta adalah sarjana teologi.
    Banyak juga warga jemaat yang pengetahuannya teologinya tinggi karena belajar sendiri. Kalau begitu perbedaannya dimana?

  4. Pendeta yang baik biarpun berkhotbah biasa2 saja pasti akan didengarkan oleh jemaat sehingga hasilnya bagi jemaat menjadi luar biasa.
    Tidak seperti pendeta yang pintar dengan ide dan khotbah yang luar biasa pasti tidak akan didengarkan oleh jemaat sehingga hasilnya menjadi biasa2 saja.
    Jadi intinya adalah pendeta yang baik itu bukan orang yang pengetahuan teologinya tinggi tetapi orang yang dapat memberitakan Firman Tuhan dengan terlebih dahulu memberikan teladan kepada warga jemaat. Itu adalah pendeta yang berwibawa yang dapat memberikan terang bagi warga jemaat.
    Jadi sebagai pendeta, pengetahuan teologi penting tapi yang lebih utama lagi bagaimana memberikan teladan yang baik bagi warga jemaat sehingga Firman Tuhan dapat didengar dan dipraktekkan oleh warga jemaat.
    Pada dasarnya pendeta berbicara/berkhotbah dari mimbar;
    Dengarkan dan jadilah pelaku Firman Tuhan ‘SEPERTI SAYA’ (tidak diucapkan).
    Jika tidak ‘SEPERTI SAYA’ mana mungkin didengarkan oleh warga jemaat?
    Oleh karena itu wibawa atau moralitas pendeta bagi saya seharusnya itu menjadi tujuan utama yang harus di tingkatkan di Institut Teologi GT. Pengetahuan teologi itu saya rasa sudah cukup didapat dari STT/STAKN.
    Dosen-dosen yang mengajar juga yang berwibawa dan bijak serta berpengalaman . Kebanyakan yang seperti itu sudah pensiun. Saya kira bisa dipanggil kembali

  5. kelihatannya info ITGT kurang diupdate???

    usul:
    – agar simbol dikembangkan

    - agar draf Sejarah GT dimuat
    - studi juga ttg standar penilaian GT secara lembaga dan karyawan termasuk pandita

  6. Wow Great ITGT membuat sesuatu yang luar biasa. Thanks Mr. Christian.
    Suggest:
    klo bisa ITGT buat renugan harian.
    gallerinya kurang buanget. juga liturgi dan renungannya.

    Be the best ITGT.

  7. Syalom. Makasih untuk koment-koment yang membangun.Tentang konten yang masih kurang, ITGToraja memang masih berusia muda. Mudah-mdahan bisa terus bertumbuh. Lagian, Webmasternya bukan orang IT tetapi tomanglaa.
    Mengenai masukan-masukan konseptual, akan menjadi pertimbangan.
    Salam.

  8. Saya suka dengan sesuatu yang baru, kayak gini-gini nih….! bagus tuk berbagi wacana, kritik dan saran. Kesan awal saya dalam komentar kolom buku tamu ini terdiri dari apresiasi, usul dan kririk yang menyoroti dua hal yaitu budaya dan persoalan moral. Dua kritik Ini makin memperkuat dugaan saya bahwa perhatian kritik moral dan budaya lebih menarik diperhatikan ketimbang masalah-masalah sosial. Asumsi ini mungkin saja salah karena terlalu dini tuk disimpulkan.
    Oh iya, apakah webmasternya bukan anggota ITGT?
    Uusul: Bisakah nantinya Web ini memuat informasi tentang kegiatan ITGT temasuk materi2 pembinaannya (minimal judul dan tujuan materi).

  9. Usulan Nech……ITGT diluncurkan tentu diharapkan dapat diakses seluruh indonesia….tapi datanya belum sempurna ya…..kami yang jauh punya kerinduan dapat mengetahui perkembangan Tana Toraja tentunya…so…diupdate ya….ditunggu loch…semua info dunia pelayanannya….

    Lam
    Vb

  10. MOHON DIREKOMENDASIKAN KEPADA BPMS GT TTG HASIL PERCAKAPAN KITA DALAM STUDI BANDING DGN MAHASISWA JOGYA. MEREKA MEMBUTUHKAN SEORANG PENDETA TUGAS KHUSUS. DI SANA ADA KL. 500 MAHASISWA/I..KURRE

  11. Syalom.
    Bung Pius, terima kasih apresiasinya. Muatan info kegiatan ITGT sudah punya linknya di itgtoraja.com. Kontetnnya masih terus ditambah walaupun berjalan lambat karena kesibukan aktifitas ITGT.
    Bu Fera yang baik, kami berusaha memenuhi kerinduan itu. Doakan semoga semua info dunia pelayanan di Toraja bisa di infokan.
    Bang Tonda, Hal itu sudah disampaikan di Rapat Kerja yang lalu. Kita tunggu saja follow upnya.

    ITGT

  12. Syaloom.
    Peserta pelatihan calon Proponen mengucapkan selamat ulang tahun ke Enam Puluh Dua untuk Gereja Toraja yang tercinta.

  13. syalom……………
    selamat yac to pdt. Christian atas kelahiran anaknya yang ke 3
    semoga sehat selalu dan terus diberkati oleh Tuhan. Amin
    nama anaknya siapa………….?

  14. Mr. Panggalo jngan cuma bilang hebat…
    mana tuh team dep kom infonya kok kalah ama yg ini…he….
    buktikan donk taringnye

  15. Dari hasil membaca beberapa buku-buku teologi yg bergumul dalam persoalan konteks Toraja, untuk sementara saya mendapat kesan bahwa catatan agenda mendesak bertelologi dalam konteks Toraja adalah Budya, Modernisasi dan Islam. Buku Alm. Pak Kobong “Injil dan Tongkonan,2008, memberi catatan soal tersebut, namun fokus utama adalah budaya yg merupakan wilayah kajian kontekstualisasi teologinya. (cat. metode Pak Kobong dikritik sebagai metode kontekstualisai teologi dan bukan berteologi kontekstual). Buku Misilogi Kontekstual 2004, merupakan respon terhadap karya Pak Kobong tsb.! Bagus untuk di baca loh! :)

    Dapat dikatakan bahwa inilah buku terbitan terbaru yg bergumul dengan konteks Toraja. Walapun sebenarnya tulisan itu sudah lama sekali dibuat sebagai karya disertasi Doktoral, yang khusus bergumul dalam perjumpaan Injil dan Tongkonan. Buku ini ternyata baru bisa konsumsi secara umum khusunya bagi warga Gereja Toraja tahun 2008. Barangkali info saya ini sudah basi, namun maksud saya menulis ini adalah…bahwa Pak Kobong telah tidak bersama-sama dengan kita dan persoalannya adalah apakah hanya Pak Kobong yang bisa kita banggakan dan andalkan untuk menghasilkan karya teologi yang bisa dikonsumsi secara umum dari generasi ke generasi (tentu telah ada yg lain namun saya rasa masih sedikit)!

    Bukankah masih banyak kader-kader Gereja Toraja yang juga berkualitas bahkan tidak kalah dengan Pak Kobong? Mengapa tidak melanjutkan jejak berkarya beliau untuk membagikan hasil pemikirannya yg dapat di baca khalayak ramai? Sederhannya saja or tidak usah rumit-rumit: Tentu banyak skripsi, tesis dan disertasi teologi yg berkualitas yg telah dibuat oleh kader-kader Gereja Toraja…mengapa hanya disimpan di rak-rak perpustakaan STT di manapun itu berada! Apakah hal itu terlalu sulit untuk dilakukan…??? Jika persoalannya adalah dana…, ah..rasanya itu omong kosong karena beli tedong berpuluh2 juta aja bisa toh??? Tedong bonga dan saleko yg nantinya dipotong akhirnya tinggal beronggok2 daging akan di karing karena terlalu banyak! Tapi saya kira karya tulis/buku tidak demikian…seperti yg saya pernah dengar dari Pak Batti’ “Saleko jika dimanfatkan dengan baik dan lebih tepat maka nilainya akan menjadi saleko selamnya.” Mungkin demikianlah jika uang untuk beli tedong saleko dimanfaatkan untuk mencetak karya tulis maka ia akan selamanya menjadi saleko! Benar gak??? kalo gak setuju berarti gak setuju ama Pak Batti hehehe..!

    Kembali ke catatan awal bahwa agenda mendesak kita adalah budaya Modernisasi dan Islam. Namun selama ini, pergumulan teologi kita hanya berputar-putar pada masalah budaya…budaya….dan… budaya… tradisional melulu. Saya bukan mengatakan itu tidak penting namun bukankah ada yg lain yg juga real, populer dan tak kalah urgennya menantang tanggung jawab iman Kristen. Mengapa perjumpaan dengan Islam seolah-olah diabaikan? Mengapa modernisasi dan globalisasi seolah-olah dianggap biasa saja…? Dan mengapa budaya-budaya populer cenderung tidak masuk dalam topik teologi..???

    Saya sedang bertanya kepada: kepada pendeta-pendeta, pemimpin gereja , teman-teman saya (yg adalah jg para teolog muda), namun tiba tiba sadar emangnya saya sendiri sudah berbuat sesuatu?? hehehe!!! jadi masiri na’…..!

    Kurre sumanga’!

  16. di jakarta anak muda cewekdilarang ibadah dengan celana panjang, tetapi ibu-ibu ibadah seperti toko mas berjalan; di makassar waktu saya masih kuliah ada pendeta GT yang tidak mau melayani jemaat yang rumahnya tidak bisa dimasuki mobil katananya; kemarin saya pulang ke kampung ada ibadah pengucapan syukur pake ondo pua;baru saja saya baca ada ma’nene’ versi kristen. sebenarnya masyarakat toraja mau dibawa kemana oleh gereja toraja. salama’ lako sangmaneku Duma Tonda umbara nakua kareba, umbara muni totemo.

  17. Halo to ITGT.
    banyak komentar nih.
    bagaimana dengan kegiatan-kegiatan ITGT selanjutnya. mohon di infokan kepada para proponen.

  18. masalah adat terus dan masa lalu yang dibahas… tedong, bai dll. jarang saya temui orang toraja membahas kualitas iman kristen khususnya orang toraja menghadapapi kemajuan dunia dan teknologi..

    kita jangan mau di bodoh-bodohi sama “politik daging” ditoraja, budaya toraja sekarang menurut saya sudah banyak yang melenceng.. misalnya aturan mengenai jumlah memotong kerbau… sekarang udah melenceng dan dibiarkan karna menguntungkan orang yang “berpolitik daging” di pesta orang mati… suatu kesalahan yang dibiarkan terjadi..

  19. Setuju bung Hend… istilah lainnya “politik kurin”. Konyolnya lagi banyak orang yg berpendidikan tinggi (Sarjana, Master, Doktor and Profesor) yg masih saja dibodoh-bodohi dengan pilitik daging or politik kurin itu. Kemana yah ilmunya?? Ataukah the power of politik kurin tak bisa di tawar-tawar lagi (it should be the winner, whatever and whenever).

    Saya mau mengulang lagi pernyataan yang pernah saya sampaikan entah di mana dan kapan (saya sudah lupa).. bahwa orang Toraja selalu bangga dengan kemampuannya memotong kerbau banyak-banyak krn dikagumi oleh orang di luar Toraja… tapi dalam pengalaman saya… sebenarnya lebih banyak orang yang menganggap itu sebagai sebuah kebodohan, kekonyolan dan budaya yg menindas. Potong kerbau bolehlah… tapi jangan sok-sok gitu (morai disanga)…, parahnya kencenderungan yg terjadi adalah mantunu tapi tak sebanding dengan kemampuannya ekonominya… akhirnya banyak kebutuhan mendasar yg harus di korbankan… entah pendidikan, kesehatan ataupun kebutuhan sehari-hari.

  20. salut dengan ITGT yang baru saya kenal belakangan. banyak hal yang bisa dipelajari darinya.
    oh ya, sebagai calon pendeta gereja bukan toraja di jakarta dan bukan orang toraja, saya senang mempelajari budaya saudara-saudara setelah kesempatan mengikuti 3 hari bersama pdt-pdt toraja di rantepao pada pertemuan refleksi september lalu. saya mengusulkan, supaya istilah-istilah adat atau bahasa toraja, juga diberi arti dalam bahasa indonesia. karena saya kesulitan memahami arti istilah-istilah asing tersebut. karena jika sudah dijadikan web, itu artinya yang mengakses kan bukan hanya orang toraja, tetapi untuk semua orang yang tertarik mempelajarinya.

    Maju terus ya!!
    salam hangat, Darmawasih manullang.

  21. kehadiranmu….ITGT membawa perubahan dalam pertarungan pemikiran ab budaya. Sangat2 menolong for kami calon pendeta GT yang dibesarkan di luar toraja. Thank’s kalau ada ji harapan buat kakak yang akan menjadi tempat kami bertanya. Jangan berhenti menulis, jangan berhenti…..Salama’

  22. shalom… thank’s untuk ITGT yang dipakai Tuhan untuk memperlangkapi kami jadi Prop….semoga 4 bulan ke depan kami kembali untuk ke kalambe’ untuk kumpul tugas…kalo butuh pendampinggg..kami siap kok… hahahaaaa… barovo proponen Desa!!!!

  23. syallom, slamat melayani ITGT smoga smua alumni yang di hasilkan semakin berkualitas demi menjawab tantangan zaman yang semakin berat. salam kenal dari GT Jemaat Bukit Amal Tarakan.

  24. Terima kasih banyak ITGT atas pembekalan yang telah kami terima… Tuhan Yesus memberkati…. salama’ dan jaya terus ITGT untuk menghasilkan calon pelayan yang benar2 membri diri untuk playanan….

Komentar ditutup.